Fathiya Farazizah, Juara Dokter Kecil Kota Mojokerto Tahun 2017
Rabu, 30 Oktober 2019
Selasa, 26 September 2017
Pawai Ta'aruf 1 Muharram 1439 H ( 24 September 2017 )
Pawai ta’aruf 2017 dalam rangka memperingati tahun baru Islam 1 Muharram 1439 Hijriah di Kota Mojokerto berlangsung semarak dan sangat meriah Minggu (24/9). Acara ini diikuti 90 peserta dari kategori SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK dan peserta umum dari pondok pesantren dan TPQ. Walikota Mas’ud Yunus didampingi forkopimda memberangkatkan acara tahunan yang mengambil start di depan Taman Makam Pahlawan Kota Mojokerto ini.
Puluhan peserta menampilkan pakaian khas dari berbagai macam suku di Indonesia. Ada yang berpakaian suku Jawa, suku Madura, suku Betawi, suku Dayak hingga suku Asmat Papua. Meski begitu seluruh peserta perempuan pada pawai ini mengenakan hijab tertutup.
Para Siswa dari SDN Wates 3 Kota Mojokerto menampilkan musik patrol dan kendaraan yang dihias miniatur masjid Cheng Ho sehingga menambah semaraknya pawai. SDN Wates 3 pun mendapatkan Peringkat Terbaik 1 Kategori SD/MI se-Kota Mojokerto. (tjp )
Puluhan peserta menampilkan pakaian khas dari berbagai macam suku di Indonesia. Ada yang berpakaian suku Jawa, suku Madura, suku Betawi, suku Dayak hingga suku Asmat Papua. Meski begitu seluruh peserta perempuan pada pawai ini mengenakan hijab tertutup.
Para Siswa dari SDN Wates 3 Kota Mojokerto menampilkan musik patrol dan kendaraan yang dihias miniatur masjid Cheng Ho sehingga menambah semaraknya pawai. SDN Wates 3 pun mendapatkan Peringkat Terbaik 1 Kategori SD/MI se-Kota Mojokerto. (tjp )
Rabu, 25 November 2015
PAWAI TA'ARUF MUSLIM NUSANTARA TAHUN 2015
Pemkot Mojokerto menggelar pawai ta’aruf
bertajuk Pawai Muslim Nusantara untuk menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharam 1437
H, (Sabtu 17/10/2015). Termasuk diantaranya adalah dari SD Negeri Wates 3
yang tergabung pada Gugus I Kecamatan Magersari, dengan mengusung tema Walisongo.
Pawai yang dilepas Wali Kota KH Mas’ud Yunus itu mengambil start
diJalan Benteng Pancasila sekitar pukul 14.00 WIB melewati jalan – jalan protokol
dan finish di Rumah Dinas Wali Kota Jalan Letkol Sumardjo.
Dalam sambutannya Walikota Mojokerto
menjelaskan bahwa pawai ini merupakan bentuk kebersamaan dan kerukunan antar
umat beragama. Pada dasarnya Islam adalah Rahmatan Lil Alamin, Islam mencintai
keindahan dan kedamaian. Berbagai macam busana daerah yang ada di Indonesia
dengan nuansa Islami menjadikan kegiatan Pawai ini seperti wisata religi. Walikota
menambahkan, Kota Mojokerto yang kecil namun besar semangatnya berupaya setiap
kegiatan / event yang spektakuler ini dapat dijadikan sebagai wisata reliji.
Selain SD N Wates 3 peserta lain yang ikut adalah
dari lapisan sekolah menengah atas sampai pondok pesantren. Mereka ramai-rai
jalan kaki sepanjang 2,5 km dengan busana dan budaya khas muslim Nusantara. Pawai
yang diselingi berbagai atraksi dari peserta bakal menyedot atensi masyarakat
baik Kota Mojokerto dan sekitarnya.
Jalan yang dilalui peserta mulai dari KPU
Kota Mojokerto berjalan ke barat menuju Jalan Bhayangkara. Kemudian ke arah
utara melewati Jalan PB Sudirman menuju depan Klenteng Hok Sian Kiong ke utara
menyusuri Jalan Letkol Sumardjo dan finish di Rumdin Wali Kota Mojokerto.
Penampilan peserta itu dinilai dan
dilombakan. Uang pembinaan total Rp 14 juta bakal diperebutkan.
Berikut daftar Pemenang Pawai Ta’aruf
Muslim Nusantara 1437 H Mojokerto Service City Tahun 2015 :
Selasa, 18 Desember 2012
Belajar sambil Tamasya
Salah satu kegiatan dari mata pelajaran IPS
( Ilmu Pengetahuan Sosial ) diantaranya adalah mengenal kerajaan - kerajaan
hindu budha yang berada di Indonesia.
Kegiatan belajar mengajar tidak hanya senantiasa dilakukan di dalam ruangan kelas saja, tetapi juga bisa dilaksanakan di luar ruangan seperti halnya yang dilakukan oleh beberapa siswa - siswi kelas 3, 4, dan 5 SDN Wates 3 Kota Mojokerto pada hari Sabtu, 15 Desember 2012.
Belajar sambil Tamasya, yaa..
Kegiatan belajar yang dilakukan adalah mengunjungi situs-situs peninggalan kerajaan Majapahit yang berada di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
Adapun tempat - tempat yang dikunjungi antara lain berawal dari pintu gerbang kerajaan Majapahit yang biasa disebut Gapura Bajang Ratu, yang konon merupakan gerbang masuk salah satu kompleks bangunan penting di ibu kota Majapahit. Bangunan ini masih tegak berdiri di Trowulan.
Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju candi brahu, pendopo agung, candi tikus, dan berakhir di Museum Purbakala Trowulan. Para siswa mengikuti dengan riang gembira. berikut liputan foto2nya :
Kegiatan belajar mengajar tidak hanya senantiasa dilakukan di dalam ruangan kelas saja, tetapi juga bisa dilaksanakan di luar ruangan seperti halnya yang dilakukan oleh beberapa siswa - siswi kelas 3, 4, dan 5 SDN Wates 3 Kota Mojokerto pada hari Sabtu, 15 Desember 2012.
Belajar sambil Tamasya, yaa..
Kegiatan belajar yang dilakukan adalah mengunjungi situs-situs peninggalan kerajaan Majapahit yang berada di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
Adapun tempat - tempat yang dikunjungi antara lain berawal dari pintu gerbang kerajaan Majapahit yang biasa disebut Gapura Bajang Ratu, yang konon merupakan gerbang masuk salah satu kompleks bangunan penting di ibu kota Majapahit. Bangunan ini masih tegak berdiri di Trowulan.
Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju candi brahu, pendopo agung, candi tikus, dan berakhir di Museum Purbakala Trowulan. Para siswa mengikuti dengan riang gembira. berikut liputan foto2nya :
KERAJAAN MAJAPAHIT
Kerajaan Majapahit adalah nama sebuah kerajaan Hindu di Jawa Timur.
Kerajaan ini didirikan oleh Raden Wijaya pada 1293. Pada masa
pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1350-1389) yang didampingi oleh Patih
Gadjah Mada (1331-1364), Kerajaan Majapahit mengalami masa keemasannya.

Setelah Raja Kertanegara gugur dalam peristiwa penyerangan Raja
Jayakatwang (Raja Kediri), berakhirlah riwayat Kerajaan Singasari. Raja
Kertanegara beserta petinggi kerajaan lainnya tewas dalam penyerangan
tersebut. Raden Wijaya (menantu Raja Kertanegara) segera melarikan diri
ke Sumenep, Madura, dan mendapat perlindungan dari Arya Wiraraja,
penguasa Sumenep. Raja Jayakatwang sangat menghormati Arya Wiraraja
sehingga Raden Wijaya diampuni. Setelah mendapat pengampunan dari Raja
Jayakatwang, Raden Wijaya beserta pengikutnya diizinkan untuk membabat
hutan Tarik (sekarang menjadi Desa Trowulan, Jawa Timur) untuk dijadikan
desa. Disinilah kemudian berdiri pusat Kerajaan Majapahit.
Kertarajasa Jayawardhana
Pada 1293 pasukan Kubilai Khan dari Cina datang dengan tujuan untuk
menghancurkan Kerajaan Singasari. Mereka tidak mengetahui bahwa
Singasari telah hancur. Hal ini dimanfaatkan oleh Raden Wijava untuk
membalas dendam kepada Raja Jayakatwang.
Candi Tikus, tempat pemandian kerabat raja Majapahit.
Pasukan Raden Wijaya bekerjasama dengan Kubilai Khan yang berjumlah
sekitar 20.000 orang. Dalam waktu singkat, Kerajaan Kediri hancur dan
Raja Jayakatwang terbunuh. Pasukan Kubilai Khan kembali ke pelabuhan,
namun di tengah perjalanan pasukan Raden Wijaya dengan bantuan pasukan
Singasari dari Sumatera menyerang pasukan tersebut. Pasukan Kubilai Khan
segera pergi dari tanah Jawa dan Raden Wijaya menjadi raja dengan gelar
Kertarajasa Jayawardhana.
Langganan:
Postingan (Atom)